Kita melihat sebuah kenyataan, bahwa matahari dikelilingi oleh planet-planet yang orbitnya berbentuk hampir mendekati bentuk lingkaran dan lintasannya hampir berimpitan. Arah peredaran semua planet itu sama, yaitu berlawanan dengan arah perputaran jarum jam. Jika kita memandangnya dari Kutub Utara, ternyata arah revolusi planet-planet itu sama dengan arah rotasi matahari. lebih dari itu, rotasi sebagian besar planet dan satelit-satelitnya juga berarah sama. Arah seperti itu dinamakan juga arah negatif. Arah gerakan benda langit yang berlawanan dengan arah tersebut dinamakan arah positif, seperti arah peredaran matahari yang terbit dari timur, lalu naik dan terbenam di barat. Demikian juga peredaran harian bintang dan bulan, jika kita mengamatinya dari bumi.
Melihat kenyataan itu, ahli Astronomi dan ahli Fisika menggunakan hukum yang berlaku bagi benda yang berputar untuk menganilisis kejadian yang berlaku di alam.
sehingga dapat diambil suatu simpulan, bahwa tata surya terbentuk dari material purba yang berputar dengan arah negatif. Sekalipun pada kenyataannya, terdapat penyimpangan arah rotasi dari arah yang umum.
Beberapa teori tentang terjadinya tata surya adalah sebagai berikut :
1. Teori Nebula (Kant dan Laplace)
Immanuel Kant (1749-1827) seorang ahli filsafat Jerman membuat suatu hipotesis tentang terjadinya tata surya. Dikatakannya bahwa di Jagat Raya terdapat gumpalan kabut yang berputar perlahan-lahan. Bagian tengah kabut itu lama-kelamaan berubah menjadi gumpalan gas yang kemudian menjadi matahari dan bagian kabut sekitarnya menjadi planet-planet dan satelitnya.
Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang ahli Fisika Perancis bernama Pierre Simon de Laplace, mengemukakan teori yang hampir sama. Dikatakan, bahwa tata surya berasal dari kabut panas yang berpilin. Karena pilinannya itu berupa gumpalan kabut yang membentuk bentukan bulat seperti bola yang besar. Makin mengecil bola itu, makin cepatlah pilinannya. Akibatnya, bentuk bola itu memepat pada kutubnya dan melebar di bagian ekuatornya, bahkan kemudian sebagian massa gas di ekuatornya itu menjauh dari gumpalan intinya, membentuk gelang-gelang. Lama-kelamaan gelang-gelang itu berubah menjadi gumpalan padat. Itulah yang disebut planet-planet dan satelitnya. Sedangkan bagian inti kabut itu tetap berbentuk gas pijar yang kita lihat sebagai matahari sekarang ini.
Kedua teori ini mempunyai persamaan tentang material asalnya, yaitu Kabut. Sehingga Teori ini dinamakan Teori Nebula atau Teori Kabut (Nebular Hypotheses), bahkan lebih dikenal Teori Kant dan Laplace.
2. Teori Planetesimal (Moulton dan Chamberlin)
Beberapa tahun kemudian, lahirlah teori-teori baru. Thomas C. Chamberlin (1872-1928) seorang ahli Geologi dan Forest R. Moulton (1872-1952) seorang ahli Astronomi yang keduanya sama-sama merupakan ilmuan Amerika. Teori Moulton dan Chamberlin dikenal sebagai Teori Planetesimal, yang berarti planet kecil. Hal ini dikatakan karena planet terbentuk dari benda padat yang memang telah ada.
Menurut teori ini, matahari telah ada sebagai salah satu dari bintang-bintang yang banyak. Pada suatu masa, ada sebuah bintang berpapasan pada jarak yang tidak terlalu jauh. Akibatnya, terjadilah peristiwa pasang naik pada permukaan matahari maupun bintang itu. Sebagian dari massa matahari itu tertarik ke arah bintang.
Pada waktu bintang itu menjauh, menurut Moulton dan Chamberlin, sebagian dari massa matahari itu jatuh kembali ke permukaan matahari dan sebagian lagi terhambur ke ruang angkasa sekitar matahari. Hal inilah yang dinamakan planetesimal yang kemudian menjadi planet-planet dan beredar pada orbitnya.
3. Teori Pasang-Surut (Jeans dan Jeffreys)
Teori Pasang-Surut ini hampir sama dengan Teori Planetesimal. Teori Pasang-Surut dikemukakan oleh Sir James Jeans (1877-1946) dan Harold Jeffreys (1891) yang sama-sama merupakan ilmuan asal Inggris.
Jeans dan Jeffrey melukiskan bahwa setelah bintang itu berlalu, massa matahari yang lepas itu membentuk bentukan cerutu yang menjorok ke arah bintang. Kemudian, akibat bintang yang makin menjauh, massa cerutu itu terputus-putus dan membentuk gumpalan gas di sekitar matahari. Gumpalan-gumpalan itulah yang kemudian membeku menjadi planet-planet. Teori ini menjelaskan, apa sebab planet-planet di bagian tengah, seperti Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus merupakan planet raksasa, sedangkan di bagian ujungnya, Merkurius dan Venus di dekat matahari merupakan planet yang lebih kecil.
4. Teori Awan Debu (von Weizsaecker)
Pada tahun 1940 seorang ahli Astronomi Jerman bernama Carl von Weizsaecker mengembangkan suatu teori yang dikenal dengan Teori Awan Debu (The Dust-Cloud Theory). Teori ini kemudian disempurnakan lagi oleh ahli Astronomi lain, yaitu Gerard P. Kuiper (1950), Subrahmanyan Chandrasekhar, dll.
Pada dasarnya teori ini mengemukakan bahwa tata surya iu terbentuk dari gumpalan awan gas dan debu. Dewasa ini di alam semesta bertebaran gumpalan awan seperti itu. Lebih dari 5.000 juta tahun yang lalu, salah satu gumpalan awan itu mengalami pemampatan. Pada proses pemampatan itu partikel-partikel debu tertarik ke bagian pusat awan itu membentuk gumpalan bola dan mulai berpilin. Lama-kelamaan gumpalan gas itu memipih menyerupai bentuk cakram yang tebal di bagian tengah dan lebih tipis di bagian tepinya. Partikel-partikel di bagian tengah cakram itu pijar. Bagian inilah yang kemudian menjadi Matahari.
Bagian yang lebih luar berputar sangat cepat, sehingga terpecah-pecah menjadi banyak gumpalan gas dan debu yang lebih kecil. Gumpalan kecil ini berpilin pula. Bagian inilah yang kemudian membeku dan menjadi planet-planet serta satelit-satelitnya.
Bahan planet itu dinamakan juga proto planet, sehingga teori ini dinamakan juga Teori Proto Planet.
4. Teori Awan Debu (von Weizsaecker)
Pada tahun 1940 seorang ahli Astronomi Jerman bernama Carl von Weizsaecker mengembangkan suatu teori yang dikenal dengan Teori Awan Debu (The Dust-Cloud Theory). Teori ini kemudian disempurnakan lagi oleh ahli Astronomi lain, yaitu Gerard P. Kuiper (1950), Subrahmanyan Chandrasekhar, dll.
Pada dasarnya teori ini mengemukakan bahwa tata surya iu terbentuk dari gumpalan awan gas dan debu. Dewasa ini di alam semesta bertebaran gumpalan awan seperti itu. Lebih dari 5.000 juta tahun yang lalu, salah satu gumpalan awan itu mengalami pemampatan. Pada proses pemampatan itu partikel-partikel debu tertarik ke bagian pusat awan itu membentuk gumpalan bola dan mulai berpilin. Lama-kelamaan gumpalan gas itu memipih menyerupai bentuk cakram yang tebal di bagian tengah dan lebih tipis di bagian tepinya. Partikel-partikel di bagian tengah cakram itu pijar. Bagian inilah yang kemudian menjadi Matahari.
Bagian yang lebih luar berputar sangat cepat, sehingga terpecah-pecah menjadi banyak gumpalan gas dan debu yang lebih kecil. Gumpalan kecil ini berpilin pula. Bagian inilah yang kemudian membeku dan menjadi planet-planet serta satelit-satelitnya.
Bahan planet itu dinamakan juga proto planet, sehingga teori ini dinamakan juga Teori Proto Planet.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar